Latest Games :
Home » » Habib Luthfi bin Yahya : Menyingkap Ma'rifat dibalik Syari'at

Habib Luthfi bin Yahya : Menyingkap Ma'rifat dibalik Syari'at

Jumat, 14 Desember 2012 | 0 komentar

Sebagai orang islam, kita mesti menyakini bahwa kita harus melalui tahap iman, islam dan ihsan. Setelah kita beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kita juga harus mengetahui serta mengerjakan syari’at, seperti shalat, puasa, zakat, haji, juga mengikuti apa yang diperintahkan Allah SWT serta menghindari apa yang dilarang-Nya.
Kalau semua kewajiban tersebut sudah dikerjakan, apakah urusannya sudah selesai? Belum. Karena kemudian akan muncul pertanyaan: Untuk apa beribadah, seperti shalat?

Nah, jawabannya ada dalam thariqah. Sebab thariqah itu menyingkap ma’rifat di balik ibadah syari’at. Contohnya, pengetahuan di balik ibadah shalat, atau lebih luas lagi pengetahuan di balik syari’at islam.

Abdullah Shaghir

Cileungsi, Bogor,

Jawa Barat.

Al Habib M. Luthfi Bin Yahya Menjawab

Seharusnya, orang yang ingin berthariqah sudah mafhum dalam hal syari’at. Karena itulah, majelis pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin, karya Imam Al-Ghazali, di Majelis kanzus Shalawat Pekalongan, misalnya, tidak membuka acara tanya jawab tentang syari’at. Misalnya, mengapa shalat Maghrib tiga rakaat, isya’ empat rakaat, dan Shubuh dua rakaat? Mengapa puasa dimulai dari waktu shalat Subuh hingga masuk waktu maghrib? Itu adalah syari’at, yang perlu dimengerti lebih dulu dasar dan ketentuannya.

Kalau jama’ah sudah mengetahui syari’at dengan baik, jalan selanjutnya baru thariqah.

Dalam perjalanan waktu mempelajari syari’at, bisa saja muncul pertanyaan : Mengapa kita harus shalat, puasa, dan lainnya? Mereka ingin mengetahui apa yang ada di balik ibadah yang mereka lakukan.

Saat seseorang sudah perlu kepada kepada kepada ma’rifat, yaitu pengetahuan di balik syari’at islam, saat itulah ia masuk thariqah. Dan kalau ia menganggap wajib memperoleh pengetahuan itu, ia wajib memasuki thariqah.

Jadi, thariqah sebenarnya bukan sekadar orang membaca wirid. Yang lebih penting adalah mendapatkan pengetahuan terhadap ibadah-ibadah yang kita lakukan. Wirid dan lainnya sekedar latihan dan ketekunan, supaya kita lebihdekat kepada Allah, Dzat Yang Memberikan pengetahuan ma’rifat kepada manusia

Manusia harus menyadari atau mengetahui secara mendasar bahwa ia adalah makhluk (yang diciptakan) Khaliq (Pencipta, Allah). Hubungannya dengan pertanyaan “Mengapa kita melakukan shalat?”, karena, selain itu sebagai perintah Allah, dalam shalat kita juga mengetahui (ma’rifat) bahwa diri kita makhluk. Sudah menjadi kewajiban makhluk untuk menyembah, mengabdi, dan tunduk kepada penciptaan-nya.

Inti shalat adalah do’a. Jadi, orang yang berdo’a kepada Allah menyadari bahwa dirinya makhluk, yang lemah dan butuh pertolongan serta lindungan dari Allah, sebagai Dzat Yang Maha Memberi pertolongan dan perlindungan.

Hanya saja, manusia memiliki sifat lalai (ghafiah). Maka shalat dan ibadah lainnya, seperti wirid dan dzikir, serta latihan lainnya, bertujuan untuk terus mengingatkan manusia akan hakikat dirinya, sebagai makhluk, yang diciptakan oleh Khaliq. Dengan begitu, semua ibadah yang dilakukan akan dilaksanakan dengan ikhlas. Lillahi ta’ala, hanya karena Allah Ta’ala. Bukan karena alasan untuk harta benda, kekuasaan, atau kepentingan duniawi lainnya.

Unsur Tauhid dalam Makan

Rabu, 26 September 2012 20:02.

Doa Allahumma baarik lanaa fii maa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaaban naar, itu doa yang simpel tetapi memiliki kandungan yang luar biasa. Mengapa? Karena untuk menepis barang-barang yang diketahui atau tidak diketahui, terutama barang yang haram, dan al-khabaaits (dari doa masuk WC,”Allahumma innii a’uuzhu bika min al-khubutsi wa al-khabaa-its). Karena doa-doa ini, sekalipun dibaca di tempat dan waktu yang berbeda, namun masih memiliki kaitan. Para sesepuh kita dahulu kalau makan itu memakai pakaian yang bagus, rapi, wangi, ceritanya yang baik-baik, kalau ada tamu ceritanya yang menyemangati tamu agar tamu tidak rikuh makan dan tamu nikmat makannya. Hal itu karena beliau-beliau makan sambil menghormati pemberi rezeki, bismillah bin niyah hormat kepada pemberi rizki, sehingga kalau ada nasi yang jatuh sekalipun sebiji (seupa)  itu diambil, karena untuk hormat kepada yang menciptakan dan pemberi rezeki, serta ingat bahwa yang ikut andil dari sebutir nasi itu banyak, dari mulai petani, air, tanah, sinar matahari, penjual, dan lain-lain. Dan ini masuk dalam doa Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaaban naar.

Kalau dalam nasi saja yang andil banyak, apalagi bangsa dan Negara ini? Apalagi penyebaran Agama Islam ini? Apa penyebaran Agama hanya andil satu kiai? Apa kemerdekaan hanya andil satu atau dua orang?

Para auliya’, makannya beliau-beliau saja itu ibadah, karena di dalam makan menyadari ketauhidan Allah, pasrah, ketika makanan masuk maka sadar dan pasrah, karena tanpa campur tangan kuasa Allah, makanan itu tidak bisa masuk ditelan, tidak bisa dicerna menjadi darah, dan lain-lain. Di sinilah unsur tauhid dalam makan. Sehingga tidak ada yang merasa bisa disombongkan. Kalau kita makan kita niati untuk ibadah, maka tubuh ini bisa merasa berat untuk bermaksiat.

Mengapa kok dalam doa ada wa qinaa ‘adzaaban naar? Wa qinaa ‘adzaaban naar ini tidak hanya untuk konteks akhirat. Karena belum tentu yang dimakan adalah halal, meskipun secara syari’ah halal. Dan waqinaa ‘adzaaban naar ini kemudian dijawab dalam doa masuk kamar mandi atau WC dan doa setelah buang air. Wallahu a’lam.

Disarikan dari pengajian Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya pada 30 Juli 2012.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. DAMPAR PESANTREN - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger